ribuan artikel terunik teraneh menarik terlangka terlucu cari disini:

Alasan Wanita Menolak Cinta Seorang Pria


Anda sering ditolak wanita saat mengajak berkencan? Penolakan bukan berarti wajah Anda kurang menawan, terkadang karena wanita memiliki masalah tertentu.

1. Anda Bukan Tipenya.
Beberapa wanita menyukai tipe ideal tertentu. Beruntunglah Anda, jika ia menolak dengan alasan mempunya pacar. Namun, ada kalanya seorang wanita mempermainkan pria dengan menerima 'sementara' ajakan itu dan meninggalkan Anda sesegera mungkin, setelah ia menemukan pujaan hatinya.

2. Sedang Patah Hati.
Bila wanita sedang mengalami patah hati, jangan pernah berharap ajakan Anda diterima. Tipe wanita ini ingin istirahat sementara, agar ia bisa memahami dirinya yang sedang terluka. Berikanlah waktu untuknya dengan menjadi teman biasa. Jika dalam perjalanan menemui kecocokan, Anda berdua bisa naik ke tahap berikutnya.

3. Butuh Perhatian Penuh.
Tidak bisa dipungkiri, wanita senang menjadi pusat perhatian dan dipuji pasangannya. Jika Anda mengincar wanita tipe ini, bersiaplah menghabiskan banyak waktu dan segala macam tuntutannya. Jika tidak, bersiaplah didepak olehnya.
Baca Selengkapnya - Alasan Wanita Menolak Cinta Seorang Pria

Fakta Dibalik Sejarah G30S PKI

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.



Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.

Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.

Potongannya seperti preman

Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.

“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal.

“Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”

Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Clash yang terjadi pada 1948 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. “Untung kemudian masuk Korem Surakarta,” katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. “Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ,” kata Suhardi.

Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Seperti kita ketahui, Soeharto kemudian naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dengan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.

Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.

Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya. Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno.

“Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto,” kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.

Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu.

Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa.

Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948. “Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun.”

Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung.



Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagai anggota Detasemen Pengawal Khusus. Pangkatnya lebih rendah dibanding Untung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktu mereka bertemu, ia harus menghormat kepada Untung. Suhardi ingat Untung menatapnya. Untung lalu mengucap, “Gus, kamu ada di sini….”

“Mengapa perhatian Soeharto terhadap Untung begitu besar?” Menurut Maulwi, tidak ada satu pun anggota Tjakra yang datang ke Kebumen. “Kami, dari Tjakra, tidak ada yang hadir,” kata Maulwi.

Dalam bukunya, Soebandrio melihat kedatangan seorang komandan dalam pesta pernikahan mantan anak buahnya adalah wajar. Namun, kehadiran Pangkostrad di desa terpencil yang saat itu transportasinya sulit adalah pertanyaan besar. “Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri pernikahan Untung,” tulis Soebandrio. Hal itu diiyakan oleh Suhardi. “Pasti ada hubungan intim antara Soeharto dan Untung,” katanya.


Soeharto: Sikat saja, jangan ragu

Dari mana Letkol Untung percaya adanya Dewan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandrio menyebut, di penjara, Untung pernah bercerita kepadanya bahwa ia pada 15 September 1965 mendatangi Soeharto untuk melaporkan adanya Dewan Jenderal yang bakal melakukan kup. Untung menyampaikan rencananya menangkap mereka.

Bila kita baca transkrip sidang pengadilan Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa pada awal 1966, Untung menjelaskan bahwa ia percaya adanya Dewan Jenderal karena mendengar kabar beredarnya rekaman rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer Jakarta, yang membicarakan susunan kabinet versi Dewan Jenderal.

Maulwi melihat adalah hal aneh bila Untung begitu percaya adanya informasi kudeta terhadap presiden ini. Sebab, selama menjadi anggota pasukan Tjakrabirawa, Untung jarang masuk ring I atau ring II pengamanan presiden. Dalam catatan Maulwi, hanya dua kali Untung bertemu dengan Soekarno. Pertama kali saat melapor sebagai Komandan Kawal Kehormatan dan kedua saat Idul Fitri 1964. “Jadi, ya, sangat aneh kalau dia justru yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal,” kata Maulwi.

Menurut Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah. Mereka diperintahkan datang ke Jakarta untuk defile Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober.

Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Yang aneh, pasukan itu membawa peralatan siap tempur. “Memang mencurigakan, seluruh pasukan itu membawa peluru tajam,” kata Suhardi. Padahal, menurut Suhardi, ada aturan tegas di semua angkatan bila defile tidak menggunakan peluru tajam. “Itu ada petunjuk teknisnya,” ujarnya.

Pasukan dengan perlengkapan siaga I itu kemudian bergabung dengan Pasukan Kawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat Monumen Nasional.


Soeharto melewati pasukan yang hendak membunuh 7 jenderal

Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kita ketahui, pasukan Untung bergerak menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam itu Soeharto , menunggui anaknya, Tommy, yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di rumah sakit itu Kolonel Latief, seperti pernah dikatakannya sendiri dalam sebuah wawancara berusaha menemui Soeharto.

Adapun Untung, menurut Maulwi, hingga tengah malam pada 30 September 1965 masih memimpin pengamanan acara Presiden Soekarno di Senayan. Maulwi masih bisa mengingat pertemuan mereka terakhir terjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maulwi menegur Untung karena ada satu pintu yang luput dari penjagaan pasukan Tjakra. Seusai acara, Maulwi mengaku tidak mengetahui aktivitas Untung selanjutnya.
Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakan dari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29 September, Suhardi menjadi perwira piket di pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada anggota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton di bawah Untung, yang bernama Djahurup hendak masuk Istana. Menurut Suhardi, tindakan Djahurup itu tidak diperbolehkan karena tugasnya adalah di ring luar sehingga tidak boleh masuk. “Saya tegur dia.”
Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi sudah tiba di depan Istana. “Saya heran, dari sekitar daerah Bank Indonesia, saat itu banyak tentara.” Ia langsung mengendarai jip menuju markas Batalion 1 Tjakrabirawa di Tanah Abang.
“Saya ingat yang jaga saat itu adalah Kopral Teguh dari Banteng Raiders,” kata Suhardi. Begitu masuk markas, ia melihat saat itu di Tanah Abang semua anggota kompi Banteng Raiders tidak ada.
Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Untung menyiarkan susunan Dewan Revolusi, Suhardi langsung ingat wajah sahabat masa kecilnya dan sahabat yang sudah dianggap anak oleh ibunya sendiri tersebut. Teman yang bahkan saat sudah menjabat komandan Tjakrabirawa bila ke Solo selalu pulang menjumpai ibunya. “Saya tak heran kalau Untung terlibat karena saya tahu sejak tahun 1948 Untung dekat dengan PKI,” katanya.



Kepada Oditur Militer pada 1966, Untung mengaku hanya memerintahkan menangkap para jenderal guna dihadapkan pada Presiden Soekarno. “Semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,” jawab Untung.
Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, yang namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruzzaman- lah yang paling berperan dalam gerakan tersebut. Keyakinan itu muncul ketika pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru secara tidak sengaja bertemu dengan para pimpinan Gerakan 30 September: Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, Sjam Kamaruzzaman, dan Pono. Heru melihat justru Pono dan Sjam-lah yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu, sementara Untung lebih banyak diam.
“Saya tidak melihat peran Untung dalam memimpin rangkaian gerakan atau operasi ini (G-30-S),” kata Heru saat ditemui Tempo.
Soeharto: Letkol Untung murid pimpinan PKI
Soeharto, kepada Retnowati Abdulgani Knapp, penulis biografi Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President, pernah mengatakan memang kenal dekat dengan Kolonel Latif maupun Untung. Tapi ia membantah isu bahwa persahabatannya dengan mereka ada kaitannya dengan rencana kudeta.
“Itu tak masuk akal,” kata Soeharto. ”Saya mengenal Untung sejak 1945 dan dia merupakan murid pimpinan PKI, Alimin. Saya yakin PKI berada di belakang gerakan Letkol Untung,” katanya kepada Retnowati.
Demikianlah Untung. Kudeta itu bisa dilumpuhkan. Tapi perwira penerima Bintang Sakti itu sampai menjelang ditembak pun masih percaya bakal diselamatkan.
Baca Selengkapnya - Fakta Dibalik Sejarah G30S PKI

Situasi Tarakan Pasca Rusuh, Suasana Masih Mencekam

Situasi terakhir Tarakan hingga kini masih mencekam, pasca rusuh yang meletus beberapa hari lalu, walau banyak bantahan kerusuhan ini tidak bernuansa ethnis, namun tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa kerusuhan ini berbau ethnis yang melibatkan 2 suku yaitu suku asli Dayak Tidung dan Bugis.

The city was on alert following a clash between a Bugis group and a Tidung (Tarakan indigenous people) group on Sunday night. The Jakarta Post
Ketegangan masih terjadi di Tarakan, dalam foto juga terlihat pemakaman salah satu korban kerusuhan
Ketegangan masih terjadi di Tarakan, dalam foto juga terlihat pemakaman salah satu korban kerusuhan

Kabar terakhir situasi hingga tengah malam tadi masih mencekam menyusul terjadinya bentrok susulan yang melibatkan dua kelompok warga yang bertikai. Konsentrasi massa hingga Rabu (29/9/2010) malam ini masih terlihat di sejumlah lokasi. Sejak pagi hingga sore tadi, ribuan massa dari salah satu kelompok yang bertikai memadati sejumlah ruas jalan di kota Tarakan. Mereka selanjutnya berkumpul di kantor Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka), Kota Tarakan.

Beberapa kelompok masa melakukan aksi sweeping
Beberapa kelompok masa melakukan aksi sweeping

Massa selanjutnya mendatangi Polresta Tarakan dan mendesak polisi menangkap pelaku pembunuhan terhadap Abdullah (45) seorang tokoh masyarakat di Jumawa Permai, Tarakan Utara, Kaltim. Hanya beberapa jam setelah massa berkumpul di Polresta Tarakan, sebuah rumah dibakar massa. Rumah itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari Polresta Tarakan.


Situasi pun makin mencekam. Ratusan warga langsung mengungsi karena takut konflik antarkelompok makin meluas. Di tempat terpisah, seorang warga dilaporakn tewas setelah terlibat bentrok dengan kelompok warga lainnya di simpang jalan Grand Tarakan Mall.

Aparat berusaha menormalisasi kondisi kota tarakan pasca rusuh
Aparat berusaha menormalisasi kondisi kota tarakan pasca rusuh

Wali Kota Tarakan H Udin Hianggio kembali mengatakan bahwa pemerintah kota bersama aparat keamanan terkait tidak akan diam begitu saja dengan kondisi keamanan. Diakuinya, sejak kemarin pihak kepolisian sudah melakukan upaya preventif dengan melakukan penyitaan terhadap senjata tajam yang digunakan warga tidak pada tempatnya. “Saya terus berupaya mendekati kelompok-kelompok masyarakat untuk memberikan rasa keamanan di Tarakan. Intinya, kami meminta agar semua bisa menahan diri,” katanya.

Ditemui terpisah, Kapolres Tarakan AKBP Dharu Siswanto membenarkan jika sejak kemarin Polres Tarakan dan Brimob Polda Kaltim melakukan langkah preventif dengan melakukan penyitaan sajam. Itu dilakukan dengan tujuan jangan sampai salah satu kelompok masyarakat melakukan sweeping secara sepihak di jalan-jalan.



Jika ditemukan, maka kapolres berjanji sajam langsung akan diambil dan disita oleh petugas. Untuk mendapati sajam ini, polisi rutin melakukan patroli di jalan-jalan dan lokasi-lokasi yang dianggap rawan. “Supaya suasana yang sudah kondusif itu jangan diperkeruh dengan hal-hal yang demikian,” kata Dharu.

Dirinya juga menghimbau kepada seluruh warga di Tarakan agar jangan sampai terpengaruh dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab yang banyak beredar saat ini. Meski terus melakukan penyitaan, Polres Tarakan belum dapat memastikan sudah berapa banyak sajam yang diamankan. “Jumlah persisnya memang belum ada. Untuk itu kami juga mengimbau supaya warga tidak membawa sajam tidak pada tempatnya,” katanya mengingatkan.


Saat ini memang ada beberapa titik lokasi yang rawan dan berpotensi konflik. Seperti di Kelurahan Mamburungan, Juata Permai, Pasar Beringin dan wilayah kota. Untuk memperkuat petugas keamanan di Tarakan, saat ini Polres Tarakan sudah dibantu dengan adanya penambahan personel baik dari Polres Bulungan, Polres Nunukan Nunukan, Brimob Malinau dan beberapa unit dari Polda Kaltim. Meski begitu, kapolres enggan menyebutkan berapa jumlah polisi yang disiagakan.

Semoga kota Tarakan segera pulih dan normal, kedamaian kembali bersemi dan tumbuh di hati para warganya yang terdiri dari beragam ethnis, dapat hidup berdampingan dan bersaudara, mengutip pepatah dari Sulawesi Utara “Torang Kita Samua Basudara”

sumber : http://ruanghati.com/2010/09/29/update-situasi-tarakan-pasca-rusuh-suasana-masih-mencekam/
Baca Selengkapnya - Situasi Tarakan Pasca Rusuh, Suasana Masih Mencekam

KTP Jaman Belanda

Kartu Tanda Penduduk pada Jaman Belanda (Nederlandsch Indie). Verklaring van Ingezetenschap, voor personen in Nederlandsch Indie geboren, atau terjemahannya, Kartu Tanda Penduduk untuk orang yang lahir di Hindia Belanda.

Tampak Luar

Tampak Dalam



Cap





Diterbitkan di Batavia (sekarang Jakarta), pada 14 April 1921. Dokumen ini dicetak diatas kertas zegel jenis emboss, dengan nilai 1 1/2 Gulden (Een Gulden en Vijftig cent). Ukuran: 15 cm X 10 cm. Sebuah dokumen sipil kuno dari jaman Belanda yang cukup langka.
Baca Selengkapnya - KTP Jaman Belanda

Resiko Menjadi Reporter [Video]


Baca Selengkapnya - Resiko Menjadi Reporter [Video]

Masjid-masjid Unik yang ada di Indonesia

Masjid An Nurumi

Masjid An Nurumi merupakan masjid kecil di tepi jalan Jogja-Solo dengan arsitektur cukup unik. Kubah atapnya mirip bangunan di Moscow, Russia. Kubahnya berbentuk aneh dan berwarna-warni. Mesjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Kremlin. Ada juga yang menjuluki Masjid Permen, sebab kubahnya warna-warni mirip permen lolipop.


Masjid Bawah Tanah Tamansari

Masjid Taman sari terletak di bawah tanah kompleks Taman Sari Jogjakarta. Masjid Tamansari dibangun pada paruh pertama abad lalu. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Masjid bawah tanah ini terdiri atas dua lantai berbentuk bulat dengan rongga- rongga jendela di bagian luarnya. Lantai bawah dipakai untuk jamaah wanita, lantai atas untuk jamaah pria. Tangga dari lantai bawah menuju ke lantai atas terletak di tengah-tengah lingkaran. Selain itu terdapat sebuah kolam kecil berbentuk bulat di tengah masjid serta tangga yang melintang di atasnya.


Masjid Cipari

Masjid Cipari atau A-Syuro, adalah salah satu masjid tertua di Garut, Jawa Barat. Bentuk bangunan mesjid ini cukup unik karena mirip bangunan gereja dengan bentuk bangunannya yang memanjang dengan pintu utama persis ditengah-tengah nampak muka bangunan, juga keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan persis diatas pintu utama. Masjid Cipari ini juga memiliki sejarah perjuangan, karena dahulu digunakan sebagai basis perjuangan rakyat dan tentara.


Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus. Keunikan dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit. Bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Keunikan lainnya, mesjid ini dibangun dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Mesjid ini terletak di kabupaten Kudus, Jawa Tengah.


Masjid Muhammad Cheng Ho

Masjid Muhammad Cheng Ho berada di Jalan Gading, Kota Surabaya. Mesjid ini tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai salah satu masjid terunik. Bangunan mesjid ini tidak berbentuk seperti mesjid pada umumnya karena dibuat dengan arsitektur khas Tiongkok. Bentuk bangunan ini mirip Masjid Niu Jie di Beijing yang berusia lebih dari 100 tahun.


Masjid Perahu

Masjid yang terletak di sebuah gang kecil yang terapit oleh Apartemen Casablanca, Jakarta ini aslinya bernama Al Munada Darrusalam. Mesjid ini lebih dikenal sebagai masjid perahu karena di samping masjid itu terdapat bangunan beton yang menggambarkan sebuah perahu raksasa. Bangunan berbentuk perahu tersebut difungsikan sebagai tempat wudhu untuk kaum muslimat, sementara untuk kaum muslimin berada pada sisi yang berbeda. Suatu keunikan yang tak dimiliki oleh masjid-masjid lainnya.


Masjid Pintu Seribu

Masjid Nurul Yakin atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Sewu (seribu) memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lainnya karena mesjid ini memiliki seribu pintu. Masjid seribu ini menjadi salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal tapi wisatawan asing. Mesjid ini terletak di Kp.Bayur Tangerang.
Baca Selengkapnya - Masjid-masjid Unik yang ada di Indonesia

7 Keajaiban di Rusia
















1.The Baikal Lake
http://www.travlang.com/blog/wp-content/uploads/2010/04/lake-baikal.jpg
danau ini terletak di Siberia Timur dan dianggap sebagai danau terdalam di dunia serta tangki air tawar terbesar di Bumi.Danau ini berisi lebih dari 20% air tawar dunia dan lebih dari 90% air tawar Russia. dengan kedalaman 1500 meter (~ 5.000 kaki).


2.Valley of the Geysers

http://famouswonders.com/wp-content/uploads/2009/09/Valley-of-the-Geysers.jpg
Terletak di semenanjung Kamchattka dan terdiri dari ratusan geysers hidup. Tempat itu dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.


3. Mother Motherland monument

http://1.bp.blogspot.com/_kxPG6y8Qctk/SzT8W7X_BTI/AAAAAAAASXM/ihDQgwnJTfQ/s800/Mother+Motherland+monument3.jpghttp://3.bp.blogspot.com/_kxPG6y8Qctk/SzT8XqTG5QI/AAAAAAAASXc/iYx5zR_QuGY/s800/Mother+Motherland+monument.jpg
Terletak Mamayev Kurgan, Volgograd. Merupakan sebuah patung yang melambangkan keperkasaan dan perjuangan wanita di Rusia. Wanita juga jagoan lho. Patung ini merupakan patung tertinggi di Rusia daripada patung Liberty di New York.


4. Peterhof

http://www.euratlas.com/Atlas/russia/peterhof_palace.jpg
Tempat ini dibangun untuk Petrus Pertama di awal abad ke-17 dan terletak dekat Saint-Petersburg. Hal ini dianggap sebagai tempat wisata terbaik di seluruh Rusia.


5. Saint Basil’s Cathedral

http://farm3.static.flickr.com/2386/2145079381_bf78526077.jpg
Terletak di Red Square, di samping Kremlin, St Basil's Cathedral ikon pasti salah satu dari lima atraksi wisata utama di Moskow. Terletak di tengah-tengah Cincin Garden, sebuah jalan melingkar yang berjalan di pusat Moskow.


6. Poles of the Komi Republic

http://24.media.tumblr.com/tumblr_kui648qfIZ1qzzp1jo1_500.jpg
Tidak seorang pun tahu berapa lama yang lalu mereka diciptakan, tapi pasti ilmuwan tahu bahwa alam hanya bisa membuat hal seperti itu. Perkiraan usia adalah 200 juta tahun dan tinggi mereka adalah 42 meter di sebagian besar (~ 140 kaki.)


7. Elbrus

http://www.climb.mountains.com/Photo_Gallery_files/Continent_files/Elbrus.jpg
Gunung ini adalah titik tertinggi di Rusia dan beberapa orang percaya bahwa itu juga merupakan titik tertinggi di Eropa. Banyak wisatawan, ski dan pecinta snowboaring mengunjungi tempat ini setiap tahun. ketinggian 5.600 meter adalah yang 18.600 kaki.
Baca Selengkapnya - 7 Keajaiban di Rusia

Pasangan-pasangan yang Unik















Baca Selengkapnya - Pasangan-pasangan yang Unik

Inilah Bentuk "Anu"nya Ikan Paus



sumber : terselubung.blogspot.com
Baca Selengkapnya - Inilah Bentuk "Anu"nya Ikan Paus

Ternyata Tokoh James Bond Memang Ada di Dunia Nyata

Detail Berita


Intelijen Inggris M16 untuk pertama kalinya merilis buku sejarah yang mengungkapkan kebenaran misi yang dilakukan James Bond, agen yang selama ini dikenal hanya di layar lebar dan novel.

Buku ini ditulis Keith Jeffery, seorang profesor bidang sejarah dari Universitas Queen di Belfast. Untuk menyusun buku ini, Keith diberikan akses oleh M16 untuk menelusuri arsip mengenai Bond, sejak 1909 hingga awal Perang Dingin 1949.

Dalam cerita yang beredar, Bond melakukan misi meledakkan kapal-kapal dan masuk ke sarang Nazi yang saat itu menguasai Eropa dan Uni Soviet. Tentu saja aksi itu dilakukan dengan peralatan canggih intelijen di zamannya.

Buku ini juga mengungkap untuk pertama kalinya bahwa penulis kenamaan Inggris Graham Greene, W Somerset Muagham, dan Arthur Ransome, ternyata adalah agen M16.

Keith mengungkapkan, dirinya mendapat akses ke tempat khsusus penyimpanan arsip intelijen. Arsip-arsip itu memuat misi intelijen yang belum pernah diungkap ke publik sebelumnya.

'(Misi-misi) itu merupakan keberuntungan. Seperti tidak di wilayah musuh, namun seperti menaruh agen di negara asing saja,' ujar Keith dalam peluncuran buku M16 setebal 810 halaman di Foreign and Commonwealth Office di London.

Salah satu agen, Bill 'Biffy' Dunderdale, merupakan teman dekat Ian Fleming, penulis novel-novel James Bond. Perempuan cantik serta mobil cepat pun dijadikan model bagi agen 007 itu dalam menjalankan misinya.

Jeffery mengungkapkan, agen-agen memiliki hak untuk membunuh yang kemudian dijadikan salah satu judul film Bond Licence to Kill. Terungkap, para agen terlibat dalam pembunuhan ilegal setidaknya dua orang dalam misinya.

Para agen juga melakukan pengeboman terhadap lima kapal dalam misi 'Operation Embrarass', sebuah kampanye untuk mematahkan semangat para pengungsi Yahudi yang hendak ke Palestina, wilayan yang ketika itu menjadi jajahan Inggris.

M16 juga terlibat spionase ke Amerika Serikat serta 'Free France' yang mengisahkan tentang perlawanan heroik Charles de Gaulle dalam Perang Dunia II.
Baca Selengkapnya - Ternyata Tokoh James Bond Memang Ada di Dunia Nyata

Terjadi Baku Tembak di PN Jakarta Selatan, 2 Pengunjung di Tebas Parang

http://media.vivanews.com/images/2009/06/15/72134_kerusuhan_pemilu_iran.jpg
ilustrasi

Kerusuhan terjadi saat persidangan perkara bentrokan di klub malam, Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dua pengunjung mengalami luka parah akibat tangan & kepalanya ditebas parang.

Ratusan orang dari kedua pihak terlibat baku hantam di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu 29 September 2010. Di antara mereka membawa senjata seperti parang. Di tengah kerusuhan, terlihat dua korban terkapar dengan luka di bagian tangan dan kepalanya.

Untuk mengantisipasi kerusuhan meluas, pihak kepolisian melepaskan tembakan peringatan. Upaya polisi ini membuat dua kubu yang tengah bentrok mulai membubarkan diri dan berlarian.

Dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan enam tersangka. Mereka dinilai harus bertanggung jawab atas bentrokan di Klab Blowfish pada 4 April 2010. Dalam bentrokan itu, dua pengunjung tewas.
Ini merupakan rusuh kedua kalinya. Sidang sebelumnya beberapa waktu lalu juga diwarnai dengan kericuhan dan beberapa orang terluka.

sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/180198-sidang-blowfish-rusuh--2-pengunjung-diparang
Baca Selengkapnya - Terjadi Baku Tembak di PN Jakarta Selatan, 2 Pengunjung di Tebas Parang

10 Mata Uang Tertua di Indonesia

1. Uang Syailendra (850 M)
Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :

* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak

Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.


2. Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)
Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.





3. Uang 'Ma', (Abad ke-12)


Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai?) dalam bidang lingkaran atau segiempat. Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.




4. Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad k-13)
pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.




5. Uang Dirham, Kerajaan Samudra Pasai (1297 M)
Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.




6. Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad ke-14)

Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.


7. Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad ke-15)
Mata-uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.


8. Uang Jinggara, Kerajaan Gowa (Abad ke-16)
Di daerah Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, berdiri kerajaan Gowa dan Buton. Kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653-1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa.


9. Uang Picis, Kesultanan Cirebon (1710 M)
Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut picis, dibuat sekitar abad ke-17. Sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin berbunyi CHERIBON.




10. Uang Real Batu, Kesultanan Sumenep (1730 M)
Kerajaan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi ‘sumanap’ sebagai tanda pengesahan. Uang kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut juga real batu karena bentuknya yang tidak beraturan. Dulunya uang perak ini banyak beredar di Mexico yang kemudian beredar juga di Filipina (jajahan Spanyol). Di negeri asalnya uang mi bernilai 8 Reales. Selain uang real Mexico, kerajaan Sumenep juga memanfaatkan uang gulden Belanda dan uang thaler Austria.
Baca Selengkapnya - 10 Mata Uang Tertua di Indonesia